Senator Menyapa

I.B. Rai Dharmawijaya Mantra Ngayah Nyangging dalam Metatah Massal Desa Adat Panjer

Anggota DPD RI I.B. Rai Dharmawijaya Mantra ikut ngayah nyangging dalam Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 30 Agustus 2026 · 10:59 am
3 menit baca

Anggota DPD RI I.B. Rai Dharmawijaya Mantra ikut ngayah nyangging dalam Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu 29 Agustus 2026. Kehadirannya bersama Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dan anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya menjadi bagian dari rangkaian upacara yang diikuti 266 peserta.

Rangkaian Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya

Metatah Massal tersebut merupakan bagian dari rangkaian Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya Atma Wedana (Nyekah Kurung Nyatur Muka) yang dilaksanakan Desa Adat Panjer. Tahun ini, jumlah peserta disebut menjadi yang terbesar sepanjang pelaksanaan kegiatan yang rutin digelar setiap empat tahun sekali.

Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengapresiasi Jero Bendesa Adat Panjer beserta jajaran dan krama yang melaksanakan karya secara gotong royong. Ia menyebut pelaksanaan itu sebagai wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kolaborasi Pemerintah Kota Denpasar dan Desa Adat Panjer.

“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar, kami mengucapkan terima kasih kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan karya ini. Ini merupakan wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Desa Adat Panjer,” ujar Jaya Negara.

Dukungan Rp1 miliar dari Pemkot Denpasar

Jaya Negara mengatakan pelaksanaan upacara secara massal menjadi bentuk kolaborasi pemerintah dan desa adat dalam meringankan beban masyarakat menjalankan swadharma keagamaan. Pemkot Denpasar juga memberikan dukungan dana sebesar Rp1 miliar untuk membantu pelaksanaan karya tersebut.

“Walaupun bantuan ini tidak maksimal, kami memberikan dukungan sebesar Rp1 miliar, sementara kekurangannya dilaksanakan secara gotong royong. Saya kira tidak ada masyarakat yang mengeluarkan biaya. Mudah-mudahan pola seperti ini bisa kita bangun, tidak hanya di bidang spiritual dan mental, tetapi juga dalam berbagai bidang lainnya, sehingga harmonisasi dapat kita bangun di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.

Menurut Jaya Negara, semangat gotong royong dan kebersamaan perlu terus dikembangkan di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin berkembang. Sementara itu, Bendesa Adat Panjer AA Ketut Oka Adnyana mengatakan pelaksanaan karya tersebut merupakan komitmen Desa Adat Panjer untuk membantu meringankan beban finansial krama dalam menjalankan kewajiban keagamaan.

Gratis bagi krama

Rangkaian karya diawali dengan Pitra Yadnya berupa upacara Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir yang telah dilaksanakan pada 24–25 Mei 2026. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan Metatah atau Mesangih Massal serta persiapan menuju upacara Atma Wedana atau Memukur.

“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak Memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara Metatah Massal,” ujar Oka Adnyana.

Dari 266 peserta Metatah Massal, tidak semuanya berasal dari krama Desa Adat Panjer. Masyarakat dari luar wilayah desa adat itu juga diperbolehkan mengikuti prosesi.

Sementara itu, prosesi Memukur nantinya akan diikuti 212 puspa dan dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026. Oka Adnyana menegaskan seluruh rangkaian upacara dilaksanakan gratis tanpa membebani masyarakat, dengan pembiayaan ditopang kas desa adat, LPD, unit-unit usaha desa adat, serta dukungan Rp1 miliar dari Pemerintah Kota Denpasar.

“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur,” ungkapnya.

Ia berharap seluruh krama dapat mengikuti rangkaian upacara dengan tenang dan suci, berlandaskan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha. Nilai itu diharapkan menjadi tuntunan untuk mengendalikan hawa nafsu dan Sad Ripu, yakni enam musuh dalam diri manusia.

Ke depan, Oka Adnyana berharap pelaksanaan karya yang rutin digelar setiap empat tahun sekali itu terus mendapat dukungan masyarakat. Dengan fasilitas upacara massal yang ditanggung desa adat, krama diharapkan tidak perlu mengeluarkan biaya besar secara mandiri.

Sumber: RRI.co.id