Senator Menyapa

Gus Hilmy DPD RI Dorong Keluarga Muda Kikis Stigma Disabilitas

Anggota DPD RI asal DIY, Dr. H. Hilmy Muhammad, MA, mengapresiasi lokakarya penulisan bagi keluarga muda dengan anak penyandang disabilitas yang digelar…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 3 September 2026 · 10:15 am
3 menit baca

Anggota DPD RI asal DIY, Dr. H. Hilmy Muhammad, MA, mengapresiasi lokakarya penulisan bagi keluarga muda dengan anak penyandang disabilitas yang digelar Komunitas Suku Sastra Yogyakarta di Kantor DPD RI DIY. Ia menilai kegiatan itu mempertemukan banyak pihak untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Gus Hilmy membuka rangkaian lokakarya tersebut dan menyebut acara itu sebagai inisiatif yang baik. Menurut dia, forum seperti ini menjadi ruang pertemuan berbagai unsur yang pada akhirnya diarahkan untuk kemaslahatan bersama.

Pesan tentang kemanusiaan dan penerimaan takdir

Dalam arahannya, Gus Hilmy mengutip firman Allah Swt dalam Alquran Surat Al-Isra’ ayat 70. Ia menjelaskan bahwa memuliakan manusia berarti menempatkan setiap orang secara setara, menghormati hak asasi, dan menghindari segala bentuk kesewenangan maupun perlakuan tidak adil.

Ia juga menyampaikan kepada para orang tua agar memiliki kebesaran hati dalam menerima takdir. Menurutnya, kondisi memiliki anak difabel dapat dipahami sebagai ujian sekaligus anugerah, sehingga yang terpenting adalah menerima ketentuan itu dengan lapang.

“Kalau kemudian ada di antara kita diberikan putra atau turunan yang dalam keadaan difabel, maka itu semua adalah ujian. Di sisi lain, juga merupakan anugerah. Tugas kita adalah menerima takdir itu. Sebagaimana ungkapan penyair ‘Bila Anda rela dengan apa yang menjadi ketentuan Allah, maka Anda akan merasa nyaman menjalani hidup. Sebaliknya, bila Anda tidak rela dengan apa yang sudah dibagi oleh Allah, Anda justru akan merasa hidup Anda senantiasa dalam kesusahan’,” kata dia.

Gus Hilmy menambahkan, orang tua juga perlu membantu anak memahami cara menyikapi takdir, termasuk ketika harus berhadapan dengan perundungan dari teman sebaya. Ia mendorong agar perasaan yang muncul disalurkan secara positif tanpa membanding-bandingkan kondisi anak dengan orang lain.

Pentingnya pengalaman ditulis

Selain soal penerimaan dan pengasuhan, Gus Hilmy menyoroti pentingnya mendokumentasikan pengalaman nyata keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas. Menurut dia, tulisan dari pengalaman langsung para orang tua dapat membantu mengurangi stigma negatif sekaligus memperkaya literasi tentang disabilitas.

“Dengan membaca tulisan Bapak Ibu semua, masyarakat akan paham, ‘Oh, caranya begini. Pengalaman Bapak Ibu begini.’ Mungkin menjadi salah satu alternatif cara dalam memperlakukan anak disabilitas. Melalui penulisan pengalaman nyata oleh para orang tua, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami cara penanganan, perlakuan, dan empati yang tepat, sehingga stigma yang melekat pada penyandang disabilitas dapat dikikis secara bertahap. Stigma negatif ini berkaitan dengan masih kurangnya literasi mengenai disabilitas,” ucapnya.

Lokakarya berlangsung sebulan

Ketua Suku Sastra, Fairuzul Mumtaz, mengatakan lokakarya tersebut akan berlangsung selama satu bulan di Gedung DPD RI DIY. Kegiatan ini didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra.

Menurut Fairuz, para orang tua akan didampingi untuk menulis karya sastra yang kemudian dibukukan. Ia menyebut kegiatan ini penting tidak hanya untuk penguatan literasi masyarakat terkait disabilitas, tetapi juga untuk menghadirkan narasi baru dalam khazanah sastra Indonesia.

Sumber: RRI.co.id