Senator Menyapa

Fahira Idris DPD RI Sampaikan Enam Rekomendasi Swasembada Daging Sapi

Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyambut positif komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan agenda swasembada pangan, termasuk…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 8 September 2026 · 4:53 am
3 menit baca

Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyambut positif komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan agenda swasembada pangan, termasuk mengejar swasembada daging sapi. Menurut Fahira, capaian delapan komoditas pangan strategis yang disampaikan Presiden dalam Pidato Kenegaraan perlu diapresiasi, namun swasembada daging sapi masih menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab dengan kebijakan yang konsisten dan terukur.

Fahira menyampaikan pandangannya seusai mengikuti Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026. Ia menilai keberhasilan swasembada daging sapi tidak hanya akan menekan impor, tetapi juga memperkuat peternakan rakyat, ekonomi daerah, dan ketersediaan protein bagi masyarakat.

Enam rekomendasi untuk swasembada daging sapi

Fahira mengingatkan bahwa Indonesia telah beberapa kali menargetkan swasembada daging sapi dalam dua dekade terakhir. Karena itu, ia menilai target kali ini harus dibangun di atas fondasi peternakan nasional yang kuat dan berkelanjutan, bukan semata mengejar kenaikan produksi.

Rekomendasi pertama yang ia ajukan adalah penyusunan peta jalan swasembada sapi yang terukur dan transparan. Menurutnya, pemerintah perlu menetapkan target tahunan yang jelas, mulai dari penambahan populasi sapi, kelahiran pedet, produksi daging, kebutuhan indukan, pengurangan impor, hingga peningkatan produktivitas peternak.

“Target besar harus diterjemahkan menjadi target tahunan yang bisa diukur dan dievaluasi. Kita harus tahu setiap tahun populasi bertambah berapa, produksi naik berapa, dan ketergantungan impor turun berapa,” ujarnya.

Kedua, Fahira menekankan pentingnya menjadikan peternak rakyat sebagai aktor utama. Ia menilai persoalan peternakan sapi nasional tidak berhenti pada jumlah ternak, tetapi juga menyangkut skala usaha yang kecil, mahalnya pakan, akses permodalan, kepastian harga, dan lemahnya posisi tawar peternak.

Ia mendorong penguatan koperasi peternak, akses pembiayaan, penyediaan pakan terjangkau, pendampingan usaha, kemitraan, dan kepastian pasar agar berjalan seiring dengan peningkatan populasi sapi. Ketiga, ia meminta percepatan pembibitan dan kelahiran sapi dalam negeri melalui inseminasi buatan, transfer embrio, penyediaan semen dan bibit berkualitas, perlindungan sapi betina produktif, serta upaya menekan kematian pedet.

Fokus kesehatan hewan dan kolaborasi daerah

Rekomendasi keempat, kata Fahira, adalah menjadikan kesehatan hewan sebagai fondasi swasembada. Ia menilai pengalaman wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menunjukkan bahwa peningkatan populasi ternak bisa terganggu bila sistem kesehatan hewan tidak kuat.

Karena itu, ia menilai vaksinasi, biosekuriti, surveilans penyakit, penguatan laboratorium veteriner, ketersediaan tenaga dokter hewan, pengawasan lalu lintas ternak, serta sistem respons cepat terhadap wabah harus menjadi bagian inti strategi swasembada.

Kelima, Fahira mendorong pembangunan swasembada berbasis kekuatan dan kolaborasi daerah. Ia menilai strategi peternakan tidak bisa disamaratakan untuk seluruh wilayah Indonesia, sehingga pemerintah perlu memetakan daerah pembibitan, penggemukan, sumber pakan, sentra produksi, daerah konsumsi, hingga infrastruktur rumah potong hewan dan rantai dingin.

“Swasembada nasional harus dibangun dari kekuatan daerah. Pemerintah pusat menetapkan arah dan standar, tetapi daerah harus diberi ruang menyusun model sesuai potensi lokalnya. Jangan semua daerah dipaksa menggunakan resep yang sama,” ujar Senator Jakarta itu.

Rekomendasi keenam, Fahira menekankan agar investasi diarahkan untuk memperbesar kapasitas produksi nasional sekaligus memperkuat peternak lokal. Ia mendukung keterlibatan BUMN, Danantara, swasta, maupun investasi asing dalam mempercepat peningkatan populasi dan modernisasi peternakan.

Namun, ia mengingatkan agar investasi benar-benar membangun ekosistem peternakan dalam negeri, mulai dari pembibitan, pakan, teknologi, kesehatan hewan, penggemukan, rumah potong hewan, rantai dingin, hingga pengolahan. “Investasi harus menciptakan kapasitas baru di dalam negeri dan menggandeng peternak rakyat, bukan menggusurnya. Yang kita bangun bukan sekadar peternakan besar, tetapi ekosistem peternakan Indonesia yang kuat dari hulu sampai hilir,” ucapnya.

Fahira menegaskan, keberhasilan swasembada daging sapi pada akhirnya harus tercermin dari tiga hal, yakni turunnya ketergantungan impor, semakin mudahnya daging sapi dijangkau masyarakat, dan meningkatnya kesejahteraan peternak.

Sumber: RRI.co.id