Aktivitas DPD

Arya Wedakarna Dorong ICF 2026 Jadi Etalase Cerutu Lokal di Bali

Anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna mendorong penyelenggaraan Indonesia Cigar Festival (ICF) 2026 menjadi momentum untuk mengenalkan cerutu…

Oleh Redaksi Aktivitas DPD · 9 Oktober 2026 · 1:45 am
2 menit baca

Anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna mendorong penyelenggaraan Indonesia Cigar Festival (ICF) 2026 menjadi momentum untuk mengenalkan cerutu lokal kepada wisatawan mancanegara di Bali. Ia menilai pasar wisata di Bali sangat besar dan bisa menjadi ruang bagi produk tembakau Indonesia untuk tampil lebih kuat.

Di Kabupaten Badung, Kamis, Arya Wedakarna mengatakan festival itu berpeluang memanfaatkan minat wisatawan yang selama ini memiliki kultur menikmati cerutu. Ia juga mengajak masyarakat dan wisatawan untuk lebih mengutamakan produk Indonesia ketimbang impor.

DPD RI Soroti Potensi Pasar Wisata dan Produk Lokal

Menurut senator asal Bali itu, tren dalam tiga tahun terakhir menunjukkan wisatawan mulai melirik cerutu sebagai gaya hidup yang dinilai lebih aman dan natural. Ia menyebut cerutu tidak menggunakan filter dan dibuat dari daun tembakau kering.

Sumber video: DPD RI

\n

“Mudah-mudahan dibanding kita impor dari Kuba, impor dari Amerika Utara atau Selatan, lebih baik kita manfaatkan tembakau dan produk Indonesia, kan begitu, karena produk Indonesia juga tidak kalah,” kata Arya Wedakarna.

Festival Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Bisnis

Ketua Panitia ICF 2026 sekaligus Ketua Bali Promotion Board Opa Ewin mengatakan festival ini diarahkan untuk memperkuat jejaring bisnis dan membuka peluang ekspor yang lebih luas. ICF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Atrium Bali Collection, Nusa Dua.

Ia menyebut ajang tersebut akan mempertemukan industri cerutu, jejaring bisnis, dan ekonomi kreatif dalam satu ruang kolaborasi yang membuka peluang menuju pasar internasional. Dari catatan asosiasi, Indonesia disebut telah menempati posisi strategis sebagai negara pengekspor tembakau terbesar keempat di dunia.

Opa Ewin juga menegaskan festival itu tidak hanya menonjolkan produk kelas atas, tetapi merangkul pelaku UMKM lokal agar cerutu dapat diakses berbagai kalangan. Dalam festival itu, menurut dia, turut hadir pembuat cerutu dari berbagai daerah di Indonesia dengan proses pembuatan yang masih tradisional.

“Bisa cek di sini UMKM dari cerutu yang harganya di bawah Rp50.000 juga ada untuk mengubah pemikiran orang bahwa cerutu itu tidak selalu mahal dan eksklusif,” tuturnya.

Melalui forum bisnis dan kehadiran delegasi dari berbagai negara sahabat, ajang ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat posisi Bali sebagai pintu gerbang utama ekspor tembakau nasional.

“Ekspor terbesar kita sekarang ke China dan Rusia, serta dengan adanya kolaborasi bersama InterTabac Jerman dan kunjungan delegasi ASEAN, kita ingin menunjukkan bahwa produk UMKM lokal kita memiliki daya saing tinggi di kancah dunia,” kata Opa Ewin.

Sumber: ANTARA