Senator Menyapa

GKR Hemas Apresiasi Inovasi Kelompok Tani Wirobrajan dalam Panen Padi Galon Bekas

Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengapresiasi langkah Kelompok Tani Swa Katon Asri Wirobrajan, Kota Yogyakarta, yang berhasil menggelar…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 30 September 2026 · 11:48 am
3 menit baca

GKR Hemas Apresiasi Panen Raya Padi di Galon, Dorong Pertanian Perkotaan di Yogyakarta

Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengapresiasi langkah Kelompok Tani Swa Katon Asri Wirobrajan, Kota Yogyakarta, yang berhasil menggelar panen raya padi untuk pertama kalinya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan barang bekas. Menurutnya, inovasi pertanian di wilayah perkotaan seperti ini menunjukkan bahwa ruang sempit tidak menghalangi upaya mewujudkan ketahanan pangan mandiri.

Panen perdana padi dalam galon itu dilakukan bersama GKR Hemas dan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pada Jumat, 25 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, kelompok tani menggabungkan budidaya padi, ikan lele, serta berbagai tanaman pangan seperti cabai, tomat, terong, dan sayuran lain di tengah permukiman.

Optimalkan Ruang yang Ada

GKR Hemas menilai model pertanian terpadu di lingkungan perkotaan sangat relevan bagi Kota Yogyakarta yang memiliki keterbatasan ruang. Ia mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta agar terus mengajak masyarakat tidak hanya membayangkan pertanian sebagai kegiatan di hamparan lahan luas, tetapi juga memanfaatkan ruang yang tersedia.

“Pemerintah Kota Yogyakarta harus terus mendorong agar masyarakatnya tidak hanya berpikir mengenai pertanian yang membutuhkan hamparan lahan luas, tetapi juga mencari cara untuk mengoptimalkan ruang yang tersedia,” ujarnya.

Ia juga berharap keberhasilan Kelompok Tani Swa Katon Asri dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya. Menurut GKR Hemas, masyarakat perlu terus berinovasi, mencoba, mengevaluasi hasil, dan mempelajari teknologi maupun metode yang lebih efisien.

Contoh Ketahanan Pangan dari Rumah dan Halaman

GKR Hemas menyebut pertanian tidak selalu harus bertumpu pada sawah. Ia menilai rumah dan halaman pun bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan memperkuat pemberdayaan masyarakat.

“Ini menjadi contoh, bahwa pertanian harus memiliki sawah, tetapi bisa dari rumah-rumah atau halaman bisa dilakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ini penting memberdayakan masyarakat untuk ketahanan pangan sesuai yang dihimbau Bapak Presiden, bahwa setiap Provinsi Kabupaten/Kota itu, harus menggiatkan tanaman untuk dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, pihak Kelompok Tani Swa Katon Asri menyebut padi yang ditanam merupakan jenis Hibrida 32 dengan masa panen 110 hari. Murharjo, anggota kelompok tani tersebut, mengatakan budidaya padi di galon baru dimulai sekitar tiga bulan lalu setelah sebelumnya kelompok itu lebih dulu menanam sayur mayur selama tiga tahun.

“Dalam praktiknya, kami juga dibantu oleh Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta,” katanya.

Hasto: Ketahanan Pangan Kota Tak Harus dari Lahan Luas

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang turut hadir menyampaikan apresiasi atas pengembangan pertanian terpadu di lingkungan permukiman. Ia menilai pola itu membuktikan bahwa keterbatasan lahan di perkotaan bukan penghalang untuk menghasilkan sumber pangan secara mandiri.

Menurut Hasto, pemanfaatan seratusan galon berisi padi, budidaya lele, serta tanaman sayuran menunjukkan ruang yang ada bisa dioptimalkan secara kreatif. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan program bukan hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari keberlanjutan kegiatan, manfaat bagi warga, berbagi pengetahuan, dan bertambahnya partisipasi masyarakat.

Hasto berharap panen perdana ini menjadi awal untuk memperkuat kelompok, meningkatkan pola budidaya, memperluas keterlibatan warga, dan menjadikan ruang-ruang di kampung lebih produktif. Ia juga menekankan pentingnya gotong royong, kemandirian masyarakat, serta pelibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian perkotaan.

Dalam penjelasannya, Hasto menyebut pertanian kini tidak harus dipandang sebagai kegiatan tradisional semata. Ia menilai sektor ini bisa berkembang melalui teknologi, kreativitas, pengolahan hasil, pemasaran digital, pengelolaan lingkungan, hingga menjadi peluang usaha.

Sumber: RRI.co.id