Senator Menyapa

Irman Gusman Bekali Wisudawan UIN Mahmud Yunus dengan Lima Kunci Sukses

Senator RI Irman Gusman menekankan lima bekal utama yang perlu dimiliki generasi muda untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah, yakni Brain…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 5 September 2026 · 7:48 pm
3 menit baca

Senator RI Irman Gusman menekankan lima bekal utama yang perlu dimiliki generasi muda untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah, yakni Brain, Dream, Spirit, Confident, dan Pray. Pesan itu ia sampaikan saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Pengembangan Karir dalam Menghadapi Dunia Kerja bagi Wisudawan ke-60 UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Jumat (4/9/2026).

Irman menilai dunia kerja saat ini tidak lagi cukup menuntut ijazah semata. Lulusan juga harus memiliki kompetensi, kemampuan beradaptasi, pengalaman, serta karakter yang kuat di tengah perubahan teknologi, kecerdasan buatan, otomasi, dan ekonomi digital.

Ia menyinggung Future of Jobs Report 2025 World Economic Forum yang memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan pekerja akan berubah atau menjadi kurang relevan hingga 2030. Di Indonesia, tantangan itu juga terlihat dari sekitar 1,03 juta penganggur berpendidikan D4 hingga S3 berdasarkan data BPS Mei 2026.

Ubah cara pandang lulusan

Menurut Irman, perubahan tersebut tidak semestinya membuat lulusan pesimistis. Ia mendorong mereka mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi mencari peluang untuk menciptakan nilai.

Karena itu, ia mengajak para wisudawan tidak hanya bertanya “akan bekerja di mana?”, tetapi juga “kemampuan apa yang saya miliki, masalah apa yang bisa saya selesaikan, dan nilai apa yang bisa saya ciptakan?”

Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu kemudian merumuskan lima kunci sukses yang perlu dibangun generasi muda, khususnya para wisudawan UIN Mahmud Yunus.

Lima kunci sukses untuk menghadapi perubahan

Pertama, Brain, yakni terus belajar dan memperkuat kompetensi. Irman menegaskan, di tengah perkembangan AI, kemampuan berpikir kritis tetap penting agar lulusan mampu membaca data, memahami konteks, memecahkan masalah, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan daya pikir mandiri.

“Gunakan AI, kuasai teknologi, dan pelajari data, tetapi jangan lalu mengandalkan bahkan menyerahkan kemampuan berpikir sepenuhnya kepada chatbot atau AI,” katanya.

Kedua, Dream, atau memiliki mimpi dan visi. Menurut Irman, karier tidak hanya soal mengejar jabatan, tetapi juga tentang persoalan apa yang ingin diselesaikan dan nilai apa yang ingin diberikan.

Ketiga, Spirit, yaitu ketangguhan untuk terus melangkah meski menghadapi kegagalan. Ia menilai kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar dan bertumbuh.

“Jangan takut gagal. Dari kegagalan, kita belajar apa yang harus diperbaiki dan bagaimana melangkah lebih baik,” ujarnya.

Keempat, Confident. Kepercayaan diri, kata Irman, bukan berarti merasa lebih hebat dari orang lain, melainkan keberanian untuk mencoba, belajar, dan bertanggung jawab. Modal itu dibangun melalui karya, pengalaman, portofolio, kemampuan berkomunikasi, dan jejaring.

Terakhir, Pray. Setelah membangun kemampuan, visi, semangat, dan kepercayaan diri, seluruh ikhtiar tetap perlu disertai doa dan tawakal.

“Doa bukan pengganti kerja, dan tawakal bukan alasan untuk pasif,” kata Irman.

Irman menutup pemaparannya dengan pesan agar generasi muda tidak takut menghadapi perubahan dan tidak berhenti belajar. Ia menilai masa depan ditentukan oleh keberanian untuk terus berkembang, mencoba, dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Generasi muda harus berani bermimpi, berani mencoba, dan berani menghadapi perubahan. Jangan takut tertinggal, karena yang paling penting adalah terus belajar, terus bergerak, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkas Irman.

Sumber: RRI.co.id