Senator Menyapa

Sultan Bachtiar Najamudin Dorong Generasi Muda Perkuat Inovasi Hadapi Bonus Demografi DPD RI

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menilai bonus demografi Indonesia bisa menjadi peluang besar sekaligus persoalan jika generasi muda tidak dibekali…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 22 September 2026 · 8:55 am
3 menit baca

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menilai bonus demografi Indonesia bisa menjadi peluang besar sekaligus persoalan jika generasi muda tidak dibekali kemampuan, inovasi, dan kapasitas yang memadai. Pandangan itu ia sampaikan saat membuka Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026.

Sultan menggambarkan besarnya penduduk usia produktif sebagai modal penting bagi Indonesia menuju 2045. Namun, menurut dia, jumlah itu baru akan berarti jika diikuti kualitas sumber daya manusia yang mampu mengubah potensi demografi menjadi kekuatan pembangunan.

“Kita punya volume demografi yang luar biasa. Generasi muda atau yang biasa disebut dengan bonus demografi itu besar sekali,” ujar Sultan.

Ia menegaskan, bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Sultan menyebut kondisi itu seperti “pisau bermata dua” yang bergantung pada kesiapan generasi muda dalam mengembangkan kompetensi dan menghasilkan inovasi.

“Bonus demografi kita ini ibarat pisau bermata dua,” katanya.

Teknologi dan inovasi jadi ruang pembuktian

Menurut Sultan, generasi muda yang memiliki kualifikasi dan inovasi dapat menjadi aset sekaligus kekuatan bagi negara. Sebaliknya, jika kemampuan tersebut tidak berkembang, besarnya populasi usia produktif justru bisa berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.

“Dia bisa menjadi opportunity, aset atau power pada saat teman-teman yang muda ini betul-betul punya kualifikasi, punya inovasi,” ucapnya.

Karena itu, ia mendorong anak muda untuk menjadikan peningkatan kapasitas sebagai proses yang terus berjalan. Sultan bahkan mengajak generasi muda mengukur perkembangan diri bukan hanya dari tahun ke tahun, tetapi sedapat mungkin setiap hari.

Pesan itu ia sampaikan di tengah pelaksanaan KRTI 2026 yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Sultan, ajang seperti ini menjadi ruang untuk melatih kemampuan, kreativitas, ketekunan, sekaligus keberanian mahasiswa menghadapi persoalan teknis.

Pada babak final KRTI 2026, tercatat 94 tim dari 43 perguruan tinggi yang bersaing dalam lima divisi, yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take-Off and Landing (VTOL), Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude (LELA).

Persiapan menuju Indonesia Emas

Bagi Sultan, pengalaman mahasiswa dalam kompetisi teknologi merupakan bagian dari proses mempersiapkan generasi yang akan mengisi Indonesia pada masa mendatang. Ia mengaitkan hal itu dengan momentum satu abad Indonesia pada 2045.

“Kalau kita mau mengisi puncak di Indonesia Emas, persiapkan diri dengan baik,” katanya.

Sultan menilai generasi muda yang saat ini mengikuti KRTI termasuk kelompok yang kelak akan berperan menentukan arah Indonesia pada 2045. Karena itu, kemampuan teknologi dan inovasi perlu dibangun sejak masa pendidikan.

Ia juga menyebut pengembangan kompetensi tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa, kata dia, perlu menerapkan pengetahuan lewat perancangan, pengujian, pemecahan masalah, dan kompetisi dengan tim dari perguruan tinggi lain.

Dalam kesempatan itu, Sultan menilai Indonesia memiliki modal sumber daya manusia yang besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut berkembang menjadi kemampuan yang benar-benar dapat meningkatkan daya saing bangsa.

Ia turut menyoroti masih adanya persoalan kepercayaan diri di kalangan masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan kemampuan negara lain. Menurutnya, pengalaman kompetisi dan pertemuan internasional dapat menjadi ruang untuk membuktikan kemampuan anak muda Indonesia.

“Anak-anak Indonesia hebat. Ternyata anak-anak Indonesia tidak kalah pintarnya,” ucap Sultan.

KRTI 2026 di IKN, menurut Sultan, menjadi salah satu contoh pertemuan antara pengembangan kompetensi dan kebutuhan teknologi masa depan. Bagi generasi muda, ajang itu bukan hanya soal hasil perlombaan, tetapi juga proses membangun keterampilan yang akan menentukan posisi mereka dalam dunia kerja dan pembangunan nasional.

Sumber: RRI.co.id