Senator Menyapa

Sultan Bachtiar Najamudin Dorong Mahasiswa DPD RI Lebih Percaya Diri Berinovasi

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menekankan bahwa tantangan utama Indonesia bukan sekadar banyaknya sumber daya manusia, melainkan kemampuan…

Oleh Redaksi Senator Menyapa · 22 September 2026 · 7:53 am
3 menit baca

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menekankan bahwa tantangan utama Indonesia bukan sekadar banyaknya sumber daya manusia, melainkan kemampuan mengubah potensi itu menjadi kekuatan yang kompetitif melalui percaya diri, kompetensi, dan keberanian berinovasi.

Pernyataan itu disampaikan Sultan saat menghadiri pembukaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026. Dalam kesempatan itu, ia menilai anak-anak Indonesia sejatinya mampu bersaing dengan peserta dari negara lain, tetapi masih perlu memperkuat rasa percaya diri.

Kepercayaan diri dinilai jadi kunci

Sultan menyebut pengalaman mengikuti berbagai kegiatan internasional membuatnya melihat bahwa kemampuan generasi muda Indonesia tidak kalah. Namun, ia menilai masih ada persoalan yang harus dibenahi agar potensi tersebut benar-benar tampil di tingkat yang lebih luas.

“PR terbesar kita itu adalah sumber daya manusia yang sebenarnya banyak, tetapi mungkin karena kita belum pede atau belum terlalu yakin,” ujar Sultan.

Ia menambahkan, di tengah perkembangan teknologi dan persaingan global, kemampuan akademik dan keterampilan teknis harus disertai keberanian untuk menunjukkan karya dan menguji kemampuan di ruang yang lebih besar.

KRTI jadi ruang unjuk kemampuan

Menurut Sultan, KRTI 2026 menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk membuktikan kemampuan itu. Kompetisi tersebut mempertemukan mahasiswa dari 43 perguruan tinggi pada babak final, dengan 94 tim yang bertarung di lima divisi teknologi pesawat tanpa awak.

Ia menilai keikutsertaan peserta dari berbagai kampus menunjukkan bahwa kemampuan teknologi tidak hanya ada di perguruan tinggi besar. Bagi Sultan, setiap mahasiswa memiliki peluang yang sama ketika tampil langsung di lapangan.

“Ketika kita bertanding, itu tidak ada namanya perguruan tinggi negeri atau swasta, yang terlihat adalah bagaimana kita bertanding di lapangan,” katanya.

Karena itu, Sultan mendorong mahasiswa agar tidak menjadikan nama besar institusi sebagai ukuran utama keberhasilan. Menurutnya, ketekunan dan kemampuan mengembangkan diri justru menjadi faktor penentu saat menghadapi kompetisi.

Indonesia Emas 2045 dan tantangan SDM

Sultan juga mengingatkan generasi muda agar tidak mengukur perkembangan hanya dalam hitungan bulanan atau tahunan. Ia mendorong anak muda membangun kebiasaan untuk terus memperbaiki kemampuan dari waktu ke waktu.

“Saya selalu mengukur pertumbuhan hidup, perkembangan itu jangan dihitung bulanan, apalagi tahunan, kalau bisa harian,” ujarnya.

Pesan itu, kata Sultan, relevan dengan perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Kompetensi yang dibutuhkan pada masa mendatang dapat berbeda dari kebutuhan saat ini, sehingga kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi penting.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi perubahan itu, baik dari jumlah penduduk usia muda maupun sumber daya alam. Namun, modal tersebut harus diikuti peningkatan kualitas manusia agar tidak berhenti sebagai potensi semata.

Sultan juga mengaitkan penguatan sumber daya manusia dengan agenda Indonesia Emas 2045. Ia meminta mahasiswa mempersiapkan diri dengan baik karena generasi saat ini akan menjadi bagian dari pembangunan ketika Indonesia memasuki satu abad kemerdekaan.

“Persiapkan diri dengan baik bahwa Indonesia Emas itu pasti akan datang,” ucapnya.

Menurut Sultan, KRTI tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara. Kompetisi itu, kata dia, juga melatih mental, kemampuan, dan jejaring mahasiswa untuk menghadapi tantangan setelah lulus, sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk ikut menghasilkan inovasi, bukan sekadar memakai teknologi.

Sumber: RRI.co.id