Berita Utama

Sekjen DPD RI: Kesehatan Pegawai Jadi Investasi Kelembagaan

Setjen DPD RI menempatkan kesehatan pegawai sebagai bagian dari investasi institusi dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan…

Oleh Redaksi KabarDPD · 2 September 2026 · 2:30 pm
3 menit baca

Setjen DPD RI menempatkan kesehatan pegawai sebagai bagian dari investasi institusi dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkinerja optimal. Upaya itu diwujudkan melalui Health Talk & Sharing Session bertema “Menjaga Kesehatan Liver Demi Hidup Lebih Sehat” yang menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam Eka Hospital Depok, Gerry Permadi, di Lobi Gedung DPD RI, Jakarta.

Sekretaris Jenderal DPD RI M. Iqbal menegaskan kesehatan pegawai tidak terpisahkan dari kekuatan dan produktivitas organisasi. Karena itu, Setjen DPD RI mendorong pendekatan yang lebih preventif dengan meningkatkan kesadaran pegawai terhadap faktor risiko kesehatan, termasuk obesitas dan fatty liver.

Poliklinik DPD RI menuju Klinik Prima

Hal tersebut disampaikan Iqbal di sela-sela peresmian Poliklinik DPD RI menuju Klinik Prima yang sesuai standar. Peningkatan Klinik Pratama DPD RI dilakukan di tengah tuntutan pemenuhan regulasi Kementerian Kesehatan yang mensyaratkan setiap fasilitas pelayanan kesehatan memenuhi standar akreditasi.

Upaya pemenuhan standar itu dilakukan melalui pembenahan sarana dan prasarana serta berbagai persiapan lainnya agar Klinik Pratama DPD RI mampu memberikan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas.

“Saya melihat kesehatan pegawai sebagai bagian dari investasi institusi. Fatty liver berbanding lurus dengan makan banyak dan keinginan untuk tidak bergerak. Karena itu, saya menitipkan agar setiap unit kerja melakukan pendataan, terutama bagi pegawai yang masuk kategori obesitas, untuk kemudian diberikan arahan dan didorong mengikuti kegiatan olahraga demi kebaikan kesehatan pegawai,” ujar M. Iqbal dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).

Arahan tersebut menjadi bagian dari upaya Setjen DPD RI membangun budaya hidup sehat yang tidak berhenti pada edukasi, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah nyata di lingkungan kerja. Pendekatan preventif dinilai penting agar pegawai memiliki kesadaran lebih baik terhadap kondisi tubuhnya dan terdorong melakukan perubahan gaya hidup sebelum muncul persoalan kesehatan yang lebih serius.

Penguatan budaya hidup sehat di lingkungan kerja

Bagi Setjen DPD RI, pembangunan budaya hidup sehat merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia. M. Iqbal menilai lingkungan kerja yang sehat akan memberi dampak positif terhadap produktivitas dan kualitas pelaksanaan tugas kelembagaan.

“Kita ingin pegawai Setjen DPD RI tidak hanya sehat saat bekerja, tetapi memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari gaya hidup. SDM yang sehat adalah kekuatan institusi, dan karena itu upaya seperti ini harus terus kita dorong,” kata M. Iqbal.

Sementara itu, Gerry Permadi menjelaskan fatty liver berkaitan dengan penumpukan lemak pada liver dan memiliki hubungan erat dengan obesitas serta gangguan metabolik. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat berlangsung dengan gejala yang minim pada tahap awal.

“Fatty liver tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita makan, tetapi juga dengan seberapa aktif kita bergerak. Menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, menjaga kadar kolesterol, dan menghindari alkohol merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan liver,” kata Gerry.

Deteksi dini dan pencegahan

Dalam sesi tersebut, peserta juga mendapat pemahaman mengenai keterkaitan fatty liver dan diabetes yang dapat saling memperberat kondisi metabolik. Gerry menekankan risiko itu dapat dicegah dan dikendalikan melalui deteksi dini serta perbaikan pola hidup yang dilakukan secara konsisten.

“Pencegahan selalu menjadi langkah yang penting. Jangan menunggu sampai muncul keluhan untuk mulai menjaga kesehatan. Dengan mengenali faktor risiko dan melakukan perubahan gaya hidup sejak dini, kita dapat menjaga kesehatan liver sekaligus meningkatkan kualitas hidup,” ungkap Gerry.

Kepala Klinik Pratama DPD RI Emirianti mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen institusi untuk memperluas akses terhadap edukasi kesehatan sekaligus memperkuat upaya pencegahan. Menurutnya, persoalan kesehatan metabolik sering kali luput dari perhatian karena minimnya gejala pada tahap awal.

“Deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting melalui pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis seperti USG dan Fibroscan, serta pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi pasien,” ujar Emirianti.

Emirianti menambahkan, upaya menjaga kesehatan metabolik perlu dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, terutama melalui pengendalian berat badan, penerapan pola makan sehat, dan aktivitas fisik secara rutin. “Penurunan berat badan yang ideal juga dapat memberikan manfaat dalam memperbaiki berbagai faktor risiko metabolik yang berkaitan dengan kesehatan liver,” tutupnya.

Sumber: detikcom