Berita Utama

DPD RI Awards 2026: 10 Kandidat Inovator Pendidikan Nonformal Terpilih

Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah.

Oleh Redaksi KabarDPD · 1 Oktober 2026 · 12:21 pm
4 menit baca

Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah. Para kandidat terpilih dinilai memiliki dedikasi dalam mendidik dan memberdayakan kaum marjinal hingga disabilitas agar mandiri dan berdaya.

DPD RI menjelaskan, penghargaan pada kategori ini akan diberikan kepada individu yang memiliki dedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan nonformal. Dalam laman resminya, DPD RI menyebut penghargaan itu ditujukan bagi Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat.

Daftar kandidat

Berikut 10 kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah DPD RI Awards 2026 yang diurutkan berdasarkan abjad.

1. Afakhrul Masub Bakhtiar
Afakhrul Masub Bakhtiar merupakan pendiri Sekolah Ndeso, model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi pada masa depan. Sekolah Ndeso didirikan di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017.

Sekolah Ndeso diposisikan bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praksis dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari. Landasan pembelajarannya adalah metode TAR, yakni Tumbuhkan, Alami, Rayakan.

2. Alvian Wardhana
Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018. Lembaga ini berfokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan.

Pendirian Literasi Anak Banua berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat, serta kerentanan terhadap perubahan iklim. Sejumlah program dikembangkan, di antaranya bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate, serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.

3. Egi Trialogi
Egi Trialogi merupakan guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.

Melalui Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Ia juga membuka dan menggerakkan sejumlah usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik, di antaranya Angkringan Senja, Dapoer Senja, Nusantara Steam, dan Toko Sayuran Berkah Nusantara.

4. Fatmawati Arisuddin
Fatmawati Arisuddin menggagas program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan sejak tahun 2019. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera di Mamuju Tengah dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan sampah.

Program tersebut menyediakan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis. Fatmawati juga mengajak warga mengumpulkan sampah plastik dan botol bekas yang diolah menjadi material pengganti batu bata untuk membangun fasilitas pendidikan.

5. Gusti Mohammad Hamdan Firmanta
Gusti Mohammad Hamdan Firmanta merupakan pendiri Kawan Netra, lembaga pendidikan untuk pendampingan tunanetra yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, sejak tahun 2021. Kawan Netra menjalankan program Gerakan Tunanetra Mengaji dan Buta Digital.

Program Gerakan Tunanetra Mengaji digagas berangkat dari angka buta huruf Quran Braille di kalangan tunanetra muslim Indonesia yang disebut mencapai 95%. Sementara program Buta Digital menjadi bimbingan dan pelatihan literasi digital bagi tunanetra agar bisa mandiri dan mengoperasikan platform digital.

6. Kanaya Malika Amanda
Kanaya Malika Amanda merupakan penggagas dan penggerak program Edukasi Berjalan, gerakan youth changemaker yang merangkum perjalanan delapan tahun sebagai pendidik pemuda dan anak. Gerakan ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam memajukan pendidikan masyarakat marjinal.

Hingga kini, Kanaya telah memimpin lebih dari 253 program pendidikan langsung bagi anak dan pemuda yang mencakup isu hak asasi manusia, lingkungan, pemberdayaan perempuan, keamanan digital, dan pencegahan kekerasan. Gerakan ini juga disebut berdampak langsung pada 28.575 orang di 11 kota dan 2 negara.

7. Sofian
Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL), wadah pendidikan konservasi bunga puspa langka Bengkulu atau Rafflesia, sejak tahun 2010. KPPL lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Rafflesia.

Melalui KPPL, Rafflesia dijadikan media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan. Edukasi dilakukan lewat pengenalan Rafflesia, pembelajaran langsung di habitat, ekspedisi, pengamatan, dokumentasi, kampanye konservasi, serta pemanfaatan media digital.

8. Sri Wahyaningsih
Sri Wahyaningsih merupakan inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), “Laboratorium Pendidikan” untuk melayani anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA. SALAM diinisiasi pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara, sebagai respons terhadap tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini.

SALAM mengembangkan pendekatan “sekolah hadap masalah”, yakni pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Proses belajarnya tidak berbasis mata pelajaran, melainkan riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama, yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya, yang kemudian ditambah dengan energi.

9. Taryaningsih
Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif sebagai wadah pendidikan nonformal bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kawasan Inklusif dibangun pada tahun 2019 dan disebut sebagai inovasi pertama di Indonesia yang menghabiskan dana Rp 3 miliar lebih.

Lewat Kawasan Inklusif, para penyandang disabilitas diberikan bekal keterampilan vokasi untuk mencetak disabilitasmart. Program ini juga bertujuan memberikan kesempatan kepada disabilitas dan kelompok rentan untuk memiliki rumah sendiri serta ruang usaha yang produktif.

10. Yudhi Hari Wibowo
Yudhi Hari Wibowo merupakan inisiator ASN Mengajar, gerakan nasional yang berawal dari pengalaman mengajar secara sukarela sejak 2017. Program ASN Mengajar dijalankan dan dipimpin Yudhi sejak 2022.

Gerakan ini mengajak ASN di berbagai wilayah Indonesia berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. ASN Mengajar menjalankan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat dan bakat, kewirausahaan kreatif remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah.

Sumber: detikcom