Arya Wedakarna Dorong ICF 2026 Angkat Cerutu Lokal ke Wisman Bali
Anggota DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna mendorong Indonesia Cigar Festival (ICF) 2026 dimanfaatkan untuk memperkenalkan cerutu lokal kepada…

Anggota DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna mendorong Indonesia Cigar Festival (ICF) 2026 dimanfaatkan untuk memperkenalkan cerutu lokal kepada wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Menurutnya, pasar wisata di Bali sangat besar dan dapat menjadi ruang bagi produk tembakau Indonesia untuk dikenal lebih luas.
AWK menilai tren cerutu dalam tiga tahun terakhir turut membuka peluang baru karena wisatawan mulai melirik produk itu sebagai bagian dari gaya hidup. Ia juga mengajak masyarakat dan wisatawan untuk lebih memilih produk Indonesia ketimbang barang impor, termasuk cerutu dari luar negeri.
Promosi produk lokal dan peluang pasar
Dalam keterangannya di Kabupaten Badung, AWK menyebut Bali menerima 16 juta turis pada tahun lalu, terdiri atas tujuh juta wisatawan asing dan sekitar sembilan juta wisatawan domestik. Ia mengatakan kondisi itu menjadi pangsa pasar yang besar, terutama bagi wisatawan yang memiliki kultur menikmati cerutu.
\n“Mudah-mudahan dibanding kita impor dari Kuba, impor dari Amerika Utara atau Selatan, lebih baik kita manfaatkan tembakau dan produk Indonesia, kan begitu, karena produk Indonesia juga tidak kalah,” kata dia.
Festival diarahkan ke jejaring bisnis
Ketua Panitia ICF 2026 sekaligus Ketua Bali Promotion Board Opa Ewin menyampaikan festival tersebut memang dirancang untuk memperkuat jejaring bisnis dan membuka peluang ekspor yang lebih luas ke pasar global. ICF 2026 akan digelar pada 1–3 Oktober 2026 di Atrium Bali Collection, Nusa Dua.
Ia mengatakan ajang itu mempertemukan industri cerutu, jejaring bisnis, dan ekonomi kreatif dalam satu ruang kolaborasi. Menurutnya, forum tersebut diharapkan membuka akses menuju pasar internasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
UMKM lokal ikut dilibatkan
Opa Ewin juga menegaskan festival itu tidak hanya menonjolkan produk kelas atas, tetapi turut merangkul pelaku UMKM lokal agar cerutu dapat dijangkau berbagai kalangan. Sejumlah pembuat cerutu dari berbagai daerah di Indonesia ikut hadir untuk menunjukkan proses pembuatan yang masih tradisional.
“Bisa cek di sini UMKM dari cerutu yang harganya di bawah Rp50.000 juga ada untuk mengubah pemikiran orang bahwa cerutu itu tidak selalu mahal dan eksklusif,” tuturnya.
Ia menambahkan, Indonesia saat ini menempati posisi strategis sebagai negara pengekspor tembakau terbesar keempat di dunia. Melalui forum bisnis dan kehadiran delegasi dari berbagai negara sahabat, ajang ini diharapkan dapat memperkuat posisi Bali sebagai pintu gerbang utama ekspor tembakau nasional.
“Ekspor terbesar kita sekarang ke China dan Rusia, serta dengan adanya kolaborasi bersama InterTabac Jerman dan kunjungan delegasi ASEAN, kita ingin menunjukkan bahwa produk UMKM lokal kita memiliki daya saing tinggi di kancah dunia,” kata Opa Ewin.
Sumber: ANTARA


