DPD RI Umumkan 10 Kandidat Inovator Teknologi Kesehatan Awards 2026
Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Teknologi Kesehatan.

Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Teknologi Kesehatan. Para kandidat terpilih dinilai menghasilkan terobosan yang berdampak baik bagi dunia kesehatan di Indonesia.
DPD RI menyebut penghargaan ini akan diberikan kepada individu, profesional, hingga akademisi yang berinovasi di bidang kesehatan melalui riset klinis maupun laboratorium. Inovasi yang dimaksud mencakup penemuan obat, terapi, atau alat kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
10 kandidat Inovator Teknologi Kesehatan
Nama-nama kandidat di bawah ini diurutkan berdasarkan abjad. Masing-masing membawa inovasi yang berbeda, mulai dari pengembangan obat, alat kesehatan, hingga aplikasi digital.
Amal Rezka Putra mengembangkan berbagai radiofarmaka untuk membantu dokter mendeteksi dan menangani penyakit, khususnya tuberkulosis (TB) dan kanker. Inovasinya mencakup Kit Etambutol untuk membantu menemukan lokasi infeksi TB, Samarium-153 EDTMP untuk mengurangi nyeri pada pasien kanker yang menyebar ke tulang, serta Iodium-131 MIBG untuk diagnosis dan terapi kanker neuroblastoma pada anak.
Ia juga mengembangkan mikrosfer Samarium-153 dan Holmium-166 sebagai kandidat terapi kanker hati. Sejumlah inovasi tersebut telah sampai pada tahap hilirisasi, dan beberapa produk telah memperoleh izin edar BPOM serta digunakan dalam pelayanan kedokteran nuklir di sejumlah rumah sakit.
Aslis Wirda Hayati mengembangkan inovasi di bidang kesehatan dan gizi dengan fokus pada pencegahan stunting serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pola makan bergizi. Inovasinya mencakup metode deteksi dini pertumbuhan linier anak balita dan edukasi gizi bagi remaja dengan memanfaatkan makanan khas daerah.
Ia mengembangkan metode dan alat rapid diagnostik pertumbuhan linier anak balita dengan memanfaatkan Pyridinium Crosslinks (Pyd) dalam urin sebagai biomarker pertumbuhan tulang. Pendekatan ini dirancang sebagai alternatif pengukuran yang lebih meyakinkan dan tidak menyakitkan bagi anak, dan sejak 2023 telah menjangkau sekitar 1.065 anak balita di 11 desa.
Eka Lestari Mahyuni membuat hand soap gel dari ekstrak acem-acem dengan memanfaatkan kandungan saponin serta potensi antimikroba dan antijamur tanaman tersebut. Eka juga membuat krim anti-aging dari ekstrak acem-acem yang memanfaatkan kandungan antioksidan tanaman itu.
Krim tersebut disebut dapat membantu melembapkan kulit, menyamarkan keriput dan pori-pori, serta mengurangi tampilan flek pada kulit. Selain itu, ekstrak acem-acem juga digunakan untuk biopestisida sebagai penolak serangga dan insektisida, termasuk diuji untuk mengatasi serangan lalat buah.
Ike Listiyowati merupakan ahli gizi yang menggagas sejumlah produk olahan makanan dan minuman pendamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ia juga menjadi penggerak pencegahan stunting di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Inovasinya antara lain Joder, olahan kacang hijau dan ikan wader sebagai formula makanan pendamping ASI dengan nilai protein tinggi untuk balita gizi kurang dan stunting. Ia juga mengembangkan bubuk Tabur Moriwa, olahan moringa atau tepung daun kelor dan ikan wader untuk bayi atau anak usia 6-24 bulan.
Karisma Trinanda Putra mengembangkan GlucoMu, alat untuk memantau kadar gula darah dan kondisi tubuh tanpa perlu mengambil sampel darah. Alat ini menggunakan sensor cahaya (PPG) dan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca perubahan tubuh dan memperkirakan kadar glukosa secara real-time.
GlucoMu dirancang lebih nyaman, portabel, dan terjangkau dibanding metode pemantauan gula darah dengan menusuk kulit. Selain kadar glukosa, alat ini juga dapat memantau kadar oksigen dalam darah, detak jantung, variabilitas detak jantung, dan kadar hemoglobin.
Inovasi dari kratom, layanan kesehatan lingkungan, hingga skrining kanker
Masteria Yunovilsa Putra bersama timnya mengembangkan penelitian kratom Kalimantan untuk mengubah tanaman yang selama ini banyak dijual sebagai bahan mentah menjadi bahan baku obat yang lebih bernilai. Sejak 2022, penelitian dilakukan untuk mendapatkan dan memurnikan senyawa aktif kratom, terutama mitragynine, yang berpotensi sebagai pereda nyeri dan antiperadangan.
Melalui penelitian dan teknologi ekstraksi, mereka berhasil menghasilkan ekstrak dengan kandungan mitragynine sekitar 50-85 persen. Teknologi ini kemudian dikembangkan sebagai kekayaan intelektual BRIN dan dilisensikan kepada PT SOHO Industri Pharmasi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi kandidat produk farmasi.
Megi Riomandala merupakan penggagas Sikeling Pusako atau Sistem informasi kesehatan lingkungan Puskesmas Semelako, digitalisasi pelayanan kesehatan lingkungan Puskesmas Semelako, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Inovasi ini berangkat dari kepedulian terhadap masalah kesehatan lingkungan masyarakat.
Awalnya, pada 2019 ia mengembangkan PETISI atau Pemetaan Sanitasi untuk menjawab masalah masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai dan masih buang air besar di sungai. Sistem itu kemudian berkembang menjadi Sikeling Pusako pada 2022 untuk pendataan, pemetaan, pemantauan, dan pelayanan kesehatan lingkungan.
Nur Arning Tengara Kasih mengembangkan Sobiku Indonesia atau Sobat Peduli Kanker Anak Untuk Indonesia, platform digital untuk memperkuat ekosistem deteksi dini kanker anak di tingkat masyarakat. Platform ini tersedia melalui aplikasi dan website dengan fitur skrining gejala kanker anak, informasi rumah singgah, artikel edukasi, komunitas, donasi, serta Sobiku Store.
Sobiku Indonesia juga menggabungkan platform digital dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui empat program utama, yakni edukasi kanker anak bersama tenaga medis, pelatihan kader Posyandu, screening gejala kanker anak di Posyandu menggunakan aplikasi, serta dukungan psikososial bagi anak dan orang tua pejuang kanker.
Rini Khamimatul Ula mengembangkan Vein Finder berbasis Artificial Intelligence (AI) yang memanfaatkan teknologi near-infrared (NIR) dan pengolahan citra. Inovasi ini membantu tenaga kesehatan memvisualisasikan dan mengidentifikasi pembuluh darah vena secara lebih mudah.
Keunggulannya adalah mampu beradaptasi dengan keragaman warna kulit masyarakat Indonesia tanpa perlu pengaturan alat secara manual. Alat ini juga dirancang mudah digunakan, praktis, dan terjangkau, sehingga berpeluang dimanfaatkan di rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil.
Siti Nurmaini mengembangkan aplikasi TeleOTIVA, inovasi kesehatan digital yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI), computer vision, dan telemedicine untuk mendukung skrining serta deteksi dini kanker serviks. Aplikasi ini membantu tenaga kesehatan mendokumentasikan citra serviks, mengidentifikasi area dan lesi yang dicurigai, serta menyediakan informasi pendukung untuk evaluasi dan pengambilan keputusan klinis.
Melalui fitur telemedicine, hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga medis atau dokter spesialis tanpa terkendala jarak. TeleOTIVA juga menyediakan dokumentasi pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut pasien secara digital sebagai sistem pendukung keputusan klinis, bukan pengganti tenaga medis.
Sumber: detikcom



