Berita Utama

DPD RI Awards 2026 Pilih Tiga Besar Pelestari Budaya Daerah

Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 untuk kategori Pelestari Budaya Daerah.

Oleh Redaksi KabarDPD · 12 Oktober 2026 · 11:59 am
3 menit baca

Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 untuk kategori Pelestari Budaya Daerah. Ketiganya dinilai memiliki dedikasi tinggi dalam melestarikan identitas budaya daerah masing-masing.

Pemilihan tiga besar itu ditetapkan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). DPD RI Awards 2026 memiliki empat kategori, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.

Dewan Pakar DPD RI Awards 2026

Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 terdiri atas Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si; Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol; Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H; dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

Berikut tiga sosok yang masuk tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah.

Anitawati

Anitawati dari Maluku Utara dikenal sebagai penggagas revitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan) yang sempat hilang lebih dari 100 tahun. Melalui riset arsip sejarah dan penelusuran jejak penenun di Tidore, ia merekonstruksi teknik, motif, dan filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore.

Ia juga melakukan pelatihan menenun, pendampingan usaha, serta pemberdayaan perempuan, pemuda, pelajar, dan warga binaan rutan. Upaya itu tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis industri kreatif.

Anitawati turut mengembangkan motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands. Tenun juga dijadikannya sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya.

Ia membawa tenun Tidore tampil di berbagai ajang internasional, antara lain Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), Cape Town (2023), Paris (2024), dan Rabat (2024), serta menembus pasar ekspor melalui outlet di Hamburg, Jerman.

Endang Dzunuraini

Endang Dzunuraini dari Jawa Timur mendirikan Sanggar Mbah Guru sebagai pusat komunitas pelestarian batik yang memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal di Lamongan, Jawa Timur. Di sanggar itu, para pengrajin batik yang sempat punah berhasil dihidupkan kembali.

Endang membuka wisata edukasi membatik lengkap hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Sanggar Mbah Guru memiliki kebun budidaya berisi sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam sebagai laboratorium hidup sekaligus kebun pewarna alam percontohan yang terintegrasi dengan eco-edu culture tourism.

Sanggar Mbah Guru memproduksi batik dengan pewarna alami dari tanaman yang dapat diregenerasi. Sanggar ini juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.

Melalui Sanggar Mbah Guru, Endang memberdayakan kaum perempuan desa hingga membantu mengurangi pernikahan dini, KDRT, dan perceraian karena masalah ekonomi.

Muhammad Ridwan Alimuddin

Muhammad Ridwan Alimuddin dari Sulawesi Barat merupakan peneliti independen yang berdedikasi dalam merevitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Ia juga Duta Baca Sulawesi Barat dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak tahun 2006.

Ridwan menginisiasi dan menjadi kurator program Student on Sandeq (SOS) yang berlangsung sejak tahun 2022-2026. Program ini menjadi wadah edukatif yang mendekatkan generasi muda pada teknik pembuatan hingga pelayaran perahu tradisional.

Ia juga terlibat aktif dalam pelaksanaan festival Sandeq Race untuk merawat marwah dan eksistensi pelaut lokal secara berkelanjutan sejak 2001. Selain itu, Ridwan terlibat dalam pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia (2019-2020).

Ridwan juga mendirikan museum Nusa Pustaka dan menggerakkan Armada Pustaka di Sulawesi Barat. Gerakan literasi bergerak ini menyalurkan akses bahan bacaan bagi anak-anak pesisir di pulau terpencil, sekaligus mengintegrasikan pendidikan dengan identitas maritim lokal.

Sumber: detikcom