Berita Utama

Profil 3 Besar Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026

Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 untuk kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan.

Oleh Redaksi KabarDPD · 12 Oktober 2026 · 4:22 pm
3 menit baca

Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 untuk kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan. Para kandidat dinilai memiliki inovasi dalam menghasilkan produk pangan unggul sekaligus menggerakkan masyarakat desa.

Penentuan tiga besar itu dilakukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). DPD RI Awards 2026 memiliki empat kategori, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.

Dewan Pakar DPD Awards 2026 terdiri atas Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si; Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol; anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H.; dan guru besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

Tiga Besar Kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan

Tiga sosok yang masuk tiga besar kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan adalah Asep Hidayat Mustopa dari Jawa Barat, Anang Ismail dari Jawa Tengah, dan Rivan Rinaldi dari Aceh.

Asep Hidayat Mustopa

Asep Hidayat Mustopa merupakan penggagas Desa Wisata Hanjeli di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia melestarikan tanaman lokal hanjeli yang bijinya dapat diolah menjadi beras hanjeli, tepung, bubur, dan berbagai makanan olahan lainnya.

Desa Wisata Hanjeli berdiri sejak 2015. Di tempat itu, pengunjung dapat mempelajari sejarah hanjeli yang hampir punah sambil mencicipi olahan tradisional seperti bubur hanjeli, nasi liwet hanjeli, peuyeum hanjeli, hingga rengginang hanjeli.

Inovasi tersebut telah melibatkan lebih dari 150 warga desa. Asep juga memberdayakan perempuan, kelompok tani, hingga mantan pekerja migran Indonesia (PMI) di Desa Wisata Hanjeli.

Desa Wisata Hanjeli mampu menghasilkan lebih dari 20 ton panen yang diolah menjadi berbagai produk pangan dan turunan. Kegiatan itu juga menciptakan perputaran omzet hingga ratusan juta rupiah per tahun.

Anang Ismail

Anang Ismail adalah Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo. Ia berperan sebagai penggerak kemandirian pangan dan ekonomi masyarakat melalui pengembangan peternakan kambing perah berbasis potensi lokal.

Kelompok ternak itu menjadi wadah pembinaan, peningkatan keterampilan, dan pengembangan usaha. Rojo Koyo Utomo telah menghimpun peternak di sekitar 65 desa yang tersebar di Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Anang meningkatkan kapasitas peternak melalui pelatihan, pendampingan, bimbingan teknis, dan penerapan Good Farming Practices. Ia juga mendorong penggunaan bibit dan indukan unggul untuk meningkatkan kualitas ternak serta produktivitas susu.

Untuk meningkatkan nilai jual, Anang bersama kelompok ternak mengembangkan unit pengolahan susu kambing, termasuk produk susu kambing pasteurisasi berkualitas.

Rivan Rinaldi

Rivan Rinaldi membangun Rumoh Pangan Aceh untuk mengembangkan kacang koro pedang sebagai alternatif pangan lokal. Inovasi ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada kedelai impor.

Rivan menginisiasi program tersebut karena kacang koro pedang memiliki kandungan gizi yang baik serta harga yang lebih kompetitif. Produktivitas kacang koro pedang juga berpotensi lebih tinggi dibandingkan kedelai.

Awalnya, Rumoh Pangan Aceh mengelola 8 hektare lahan dengan 15 petani. Kini, program itu berkembang menjadi 28 hektare dengan keterlibatan sekitar 150 petani di delapan kabupaten/kota di Aceh. Kapasitas produksi pun meningkat dari 10 kg menjadi 200 kg per hari.

Hasil produksi telah mencapai lebih dari 25.000 produk dan menjangkau lebih dari 20.000 konsumen di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pemasaran dilakukan melalui empat pasar modern, 21 kanal pasar tradisional, dua SPPG, dan dua sekolah. Program ini juga membuka 20 lapangan kerja, termasuk bagi 14 perempuan desa di Aceh.

Sumber: detikcom