Berita Utama

DPD RI Awards 2026 Pilih Tiga Besar Inovator Pendidikan Nonformal

DPD RI menetapkan tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah.

Oleh Redaksi KabarDPD · 13 Oktober 2026 · 4:46 pm
3 menit baca

DPD RI menetapkan tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah. Ketiganya dinilai memiliki dedikasi dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

Pemilihan tiga besar itu diputuskan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). DPD RI Awards 2026 memiliki empat kategori, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.

Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 terdiri atas Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

Alvian Wardhana

Alvian Wardhana dari Kalimantan Selatan mendirikan Literasi Anak Banua pada 2018. Lembaga ini berfokus pada pemberdayaan anak dan pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan.

Literasi Anak Banua lahir dari persoalan buta huruf, terbatasnya akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat, serta kerentanan terhadap perubahan iklim. Sejumlah program yang dikembangkan meliputi bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate, serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.

Program-program tersebut menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender, dan pemecahan masalah lingkungan. Pelaksanaannya melibatkan pelajar-guru, pemuda adat, komunitas lokal, serta mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, hingga Rockefeller Foundation.

Egi Trialogi

Egi Trialogi merupakan guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.

Melalui Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Ia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal untuk memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi.

Egi juga membuka dan menggerakkan usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Unit usaha tersebut meliputi Angkringan Senja, Dapoer Senja, Nusantara Steam, dan Toko Sayuran Berkah Nusantara.

Taryaningsih

Taryaningsih dari Jawa Timur mendirikan Kawasan Inklusif sebagai wadah pendidikan nonformal bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek. Kawasan Inklusif dibangun pada 2019 dan disebut sebagai inovasi pertama di Indonesia yang menghabiskan dana lebih dari Rp 3 miliar.

Melalui Kawasan Inklusif, penyandang disabilitas dibekali keterampilan vokasi untuk mencetak disabilitasmart dan diajari hidup berdampingan di masyarakat bersama non-disabilitas. Pembangunannya bertujuan memberi kesempatan bagi disabilitas agar memiliki rumah sendiri.

Program ini juga membantu menciptakan infrastruktur ramah disabilitas, membuka usaha untuk disabilitas, dan memudahkan pemasaran karena berada dalam satu sentra usaha. Layanan umum di kawasan itu didesain khusus agar mudah diakses, termasuk jalan dengan jalur kursi roda dan guiding block untuk disabilitas netra.

Sumber: detikcom