Haji Uma Ingatkan Nelayan Aceh Waspadai Batas Perairan Negara
Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma, mengingatkan nelayan Aceh agar lebih berhati-hati saat melaut, terutama ketika beroperasi di…

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma, mengingatkan nelayan Aceh agar lebih berhati-hati saat melaut, terutama ketika beroperasi di kawasan yang berdekatan dengan batas perairan antarnegara. Peringatan itu disampaikan menyusul kasus nelayan Aceh Timur yang kembali berhadapan dengan otoritas Thailand.
Haji Uma menegaskan, persoalan nelayan Aceh yang tersangkut kasus batas wilayah laut bukan hal baru. Karena itu, ia meminta kewaspadaan menjadi perhatian utama setiap kali nelayan beraktivitas di kawasan rawan perbatasan.
“Kita harus waspada terhadap garis batas perairan ini. Apakah bentuknya teledor ataupun kesengajaan, harus dihindari,” kata Haji Uma, Selasa 15 September 2026.
Ia memahami kondisi nelayan di lapangan kerap tidak mudah. Saat hasil tangkapan rendah setelah berhari-hari di laut, nelayan tetap harus memikirkan kebutuhan bahan bakar dan biaya operasional yang terus berjalan.
Menurut Haji Uma, kondisi itu kadang mendorong nelayan mencari lokasi lain yang diperkirakan masih banyak ikan. Namun, jika lokasi tersebut terlalu dekat dengan batas wilayah negara lain, penggunaan alat tangkap bisa berujung pada persoalan hukum.
“Kadang-kadang ada kondisi dilematis. Sudah beberapa hari di laut, hasil tidak ada, BBM juga habis. Kemudian melihat ada kerumunan ikan di sekitar perbatasan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa nelayan bisa saja tidak menyadari kapal sudah keluar dari wilayah Indonesia. Persoalan batas wilayah biasanya baru diketahui setelah mereka berhadapan dengan aparat negara lain.
Karena itu, kesulitan mendapatkan ikan tidak boleh membuat nelayan mengabaikan batas yurisdiksi. Risiko yang muncul dapat berujung pada proses hukum di negara lain dan membuat nelayan harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang tidak pasti.
“Ini harus dihindari. Meski tidak ada hasil, minimal konsekuensinya anak, keluarga, istri kita tinggalkan,” katanya.
Perlu manfaatkan navigasi kapal
Haji Uma juga meminta nelayan memanfaatkan perangkat navigasi yang tersedia di kapal. Posisi kapal, kata dia, perlu diperiksa secara berkala, terutama saat melaut di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan.
Ia berharap nelayan tidak hanya mengandalkan perkiraan posisi ketika berada di laut. Kesadaran memastikan kapal tetap berada dalam wilayah Indonesia dinilai penting agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kehati-hatian dan kesadaran penting. Jangan melampaui garis batas negara orang,” tegasnya.
Haji Uma menambahkan, persoalan itu juga telah dikomunikasikan dengan perwakilan Indonesia di Thailand. Ia berharap upaya pencegahan dapat dilakukan bersama agar nelayan Aceh tidak terus terseret persoalan hukum akibat pelanggaran batas perairan.
Menjaga posisi kapal tetap berada di wilayah Indonesia, kata dia, penting agar nelayan dapat mencari nafkah sekaligus kembali dengan selamat kepada keluarga.
Sumber: RRI.co.id




